Kamis, 30 Mei 2013

Merangsang Otak Kanan, Mengembangkan Kreatifitas



       SERING kita saksikan, anak-anak kita yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) terpaksa harus tidur larut malam hanya untuk mengerjakan berpuluh-puluh pekerjaan rumah dan esok harinya harus dicocokkan dengan kunci jawaban yang telah tersedia. Bahkan tanpa memberi kesempatan untuk berargumentasi.
      Program akselerasi yang dalam kenyataannya sekadar memampatkan materi untuk memenuhi tuntutan kurikulum, sebenarnya salah sasaran. Betapa tidak, ciri-ciri anak berbakat yang antara lain memiliki penalaran tajam, kritis, logis, kreativitas tinggi, bertanggung jawab, ulet dalam menghadapi kesulitan, banyak inisiatif, dan percaya diri, bukan mustahil lambat laun akan terkikis.
     Bagaimana pula dengan anak didik lainnya yang sebagian besar termasuk rata-rata, bahkan lambat belajar atau prestasi akademisnya kurang memuaskan. Bukan mustahil mereka juga akan “dipaksa” mengikuti les-les tambahan yang semakin menyita banyak waktu, sekadar tujuan pemampatan materi tersebut. Hasil akhir yang ingin dicapai tidak lain adalah prestasi dalam nilai tes atau ujian. Dalam hal ini kawasan kognitif digarap habis-habisan, sementara kawasan afektif hampir tak tersentuh. Padahal proses pendidikan yang ideal yang dikemas dengan memperhatikan berbagai aspek, baik pengetahuan, sikap maupun perilaku.
       DALAM dua dasawarsa terakhir, penelitian mengenai otak manusia (brain lateralization) semakin maju. Salah satu hasil yang menonjol adalah diferensiasi fungsi antara hemisfer (otak belahan) kiri dan kanan atau yang sering disebut “otak kiri” dan “otak kanan” saja. Sebelum ada penelitian tentang hal ini, para ahli psikologi berpendapat bahwa dua belahan otak manusia berfungsi identik. Bahkan ada yang berpendapat bahwa belahan otak kanan sekadar cadangan, jika belahan otak kiri mengalami malfungsi. Anggapan keliru ini dipatahkan berbagai penelitian mengenai belahan otak manusia yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa belahan otak mempunyai fungsi berbeda.
      Hakikatnya “otak kiri” mempunyai kemampuan analitis dan “otak kanan” kemampuan berpikir sintesis. “Otak kanan” memiliki kemampuan berpikir yang menyatukan bagian-bagian untuk membentuk konsep keseluruhan yang utuh secara paralel tanpa terikat oleh langkah-langkah terstruktur atas dasar ruang dan waktu. Pemanfaatan “otak kanan” sangat efektif untuk mengajarkan imajinasi yang menembus ruang dan waktu sehingga menjadi manusia kreatif, bukan manusia robot.
     Suka atau tidak suka, proses pendidikan kita saat ini terlalu mementingkan aspek kognitif pada tataran pengetahuan dengan mengabaikan kreativitas. Proses pengajaran di sekolah lebih mementingkan target pencapaian kurikulum dibandingkan penghayatan isi kurikulum secara imajinatif dan kreatif. Gejala ini telah tampak sejak proses pendidikan di sekolah dasar sampai perguruan tinggi, sehingga tidak membuka peluang bagi anak-anak untuk berpikir divergen dan nonkonvensional.
      Proses pendidikan kita, di sekolah maupun keluarga, sejak awal dipenuhi struktur berpikir linier yang berada pada belahan otak kiri. Padahal merangsang berlebihan “otak kiri” akan menghasilkan anak yang “on-off”, yaitu yang pandai seperti robot atau komputer, tetapi kehilangan modal sangat berharga bagi kehidupannya di kemudian hari, yaitu kerangka berpikir yang menggunakan kata hati, merangsang daya khayal, menyeluruh dan bebas atau tanpa tekanan dan paksaan dari siapa pun.
   BEBERAPA pengalaman berikut merupakan contoh kecil yang dapat dilakukan oleh para pendidik maupun orangtua dalam rangka mengembangkan “otak kanan”.
     Hari-hari pertama setelah liburan sekolah, para murid SD diminta maju ke depan kelas mempresentasikan hasil karya mereka yang merupakan potret fenomena alam, baik berisi muatan pengetahuan alam, pengetahuan sosial atau seni. Di akhir penyajian, guru akan membahas, memperkaya dan mengkaitkannya dengan kurikulum.
   Pelajaran sastra di sekolah bukan diisi dengan menghafal melainkan membiarkan anak didik mengeksplorasi perpustakaan maupun media massa dan menyajikannya di depan kelas. Guru memberikan apresiasi terhadap karya-karya yang disampaikan. Sesekali menghadirkan para penulis atau sastrawan di depan kelas sebagai tamu, akan lebih memberi apresiasi dan merangsang kreativitas anak didik dalam mata pelajaran ini.
    Pekerjaan rumah bagi anak didik sebaiknya bukan sekadar menyelesaikan target jumlah bab atau halaman. Akan menjadi pengalaman yang menarik minat anak didik bila mereka ditugasi dengan masalah yang terdapat dalam buku teks maupun di lapangan untuk dipecahkan. Hal ini akan merangsang intuisi dan imajinasi anak karena pada hakikatnya tidak ada jawaban anak yang “salah”, melainklan “benar” atau “lebih tepat”.
      Sejak seorang anak telah mampu berkomunikasi, sebaiknya orangtua tidak menggunakan kata-kata yang bersifat mengharuskan, melainkan lebih mengembangkan pendapatnya. “Bagaimana sebaiknya menurut Ade?” akan lebih tepat daripada “Ade harus laksanakan perintah Mama!”

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk merangsang otak kanan, antara lain:
  • Dalam memberikan setiap informasi atau pelajaran kepada anak didik sebaiknya bukan hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga secara visual. 
  • Informasi atau pelajaran bukan hanya sekadar memberi pengetahuan, tetapi dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik.
  • Berbagai pengalaman guru maupun orang lain yang layak diketahui anak didik, sebaiknya dihadirkan di dalam kelas.
  • Belajar tidak harus di dalam kelas atau perpustakaan, tetapi ajaklah anak-anak ke lapangan untuk mengamati dan melakukan eksplorasi terhadap berbagai fenomena alam.
  •  Sesekali anak didik diajak ke lingkungan, termasuk masyarakat di sekitarnya untuk berkomunikasi dan menghayati berbagai fenomena sosial yang ada.
  • Tugas kelompok memang baik, namun anak didik juga perlu diberi tugas mandiri.
  • Dalam setiap penugasan, rangsanglah anak untuk memecahkan berbagai masalah berdasarkan intuisi dan imajinasinya, karena pada hakikatnya tidak ada jawaban anak yang “salah” melainkan “benar” atau “lebih tepat”.
  • Jangan menggunakan kata-kata “kalian harus begini”, melainkan “bagaimana sebaiknya menurut kalian”.
    Sistem pendidikan saat ini masih dalam kondisi “otak kiri” sentris. Alangkah idealnya jika sistem pendidikan yang dipakai memiliki keseimbangan antara “otak kiri” dan “otak kanan”. Satu tantangan bagi dunia pendidikan kita.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar